Menteri Agama RI akan berkunjung ke Dayah Darul Ihsan, Ahad, 24 Juli 2011 sejak pukul 16.20 WIB

Sabtu, 23 Juli 2011

Menteri Agama kunjungi Dayah Darul Ihsan

Menteri Agama Republik Indonesia  Drs. H. Suryadharma Ali, M.Si dipastikan akan berkunjung ke Provinsi Aceh pada hari Minggu, 24 Juli 2011 dalam rangka “Pencanangan Gerakan Masyarakat Maghrib Mengaji” yang dipusatkan di Masjid Raya Baiturrahman kota Banda Aceh. Demikian disampaikan Tgk. H. Musannif Sanusi, SE  (Pimpinan Yayasan Darul Ihsan) di sela-sela persiapan penyambutan di Komplek Dayah Darul Ihsan Tgk. Hasan Krueng Kalee, Sabtu (23/07).

Kedatangan Menteri Agama menurut jadwal akan tiba Lapangan Udara Sulthan Iskandar Muda pada  pukul  16.00 WIB,  dan akan mengawali kunjungannya ke Dayah Darul Ihsan Tgk. H. Hasan Krueng Kalee, Gampong Siem Kecamatan Darussalam. Di komplek Dayah ini, Menteri Agama akan melakukan silatiurrahmi dengan para ulama seluruh Aceh.   

Acara silaturrahmi yang dipusatkan di Komplek Dayah Darul Ihsan Tgk. Hasan Krueng Kalee ini menurut schedul yang telah disusun akan dimulai selepas shalat Ashar dengan agenda antara lain sambutan Pembina Yayasan Darul Ihsan Tgk H. Waisul Qarani Ali As-Su’udy, Pidato Pengarahan Menteri Agama dan dialog dengan para tamu yang hadir. Pertemuan/silaturrahmi ini menurut jadwal akan berakhir pada pukul 18.30 WIB dan Menteri Agama bersama rombongan termasuk Pimpinan Yayasan Darul Ihsan langsung menuju Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh untuk pelaksanaan shalat maghrib bersama.

Secara resminya program “Gemmar Mengaji” ini diluncurkan oleh Menteri Agama Suryadharma Ali pada 30 Maret 2011,  dan menjadikan enam provinsi sebagai daerah percontohan; masing-masing DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Banten, dan Daerah Istimewa Yogyakarta.  Tak tanggung-tanggung, secara teknis program ini didesain melibatkan 800 ribu masjid/mushalla dan menggerakan 95 ribu penyuluh (sebutan juru dakwah resmi dari Kemenag) di seluruh pelosok tanah air. Para penyuluh akan membina 496.000 majelis taklim di Indonesia. Program ini juga akan melibatkan 300 ribu guru agama dan 50.000 pondok pesantren.

Pencanangan Gerakan Masyarakat Maghrib Mengaji  oleh Menteri Agama RI di Masjid Raya Baiturrahman ini, nantinya diharapkan akan membangkitkan kembali semangat mengaji selepas shalat maghrib  dari masyarakat Aceh yang saat ini sudah sangat jarang kita temui. Bahkan selepas shalat maghrib, umumnya rumah-rumah penduduk di Aceh lebih banyak diisi dengan acara nonton TV.

repro: [admin]

Minggu, 01 Mei 2011

Tgk Haji Hasan Krueng Kalee Mencapai Tingkat Ma’rifatullah

            Landasan utama kesempurnaan setiap individu ataupun suatu komunitas terletak pada kualitas ma'rifat (pengetahuan) dan pola fikir mereka.
Kesempurnaan tersebut tidak mungkin terealisasi secara utuh tanpa didukung kualitas pengetahuan yang tinggi. Dalam pandangan Islam, kualitas sebuah perbuatan bisa diukur dari tingkat ma'rifat si pelakunya. Jika pelaku tidak melandasi perbuatannya dengan ma'rifat, perbuatannya itu tidak bernilai sama sekali. Dengan kata lain, tingkat kualitas suatu tindakan ditentukan sesuai dengan derajat ma'rifat pelakunya. Semakin tinggi derajat ma'rifat seseorang, semakin tinggi pula kualitas perbuatannya, meskipun perbuatan itu secara lahiriah nampak remeh.
            Lawan ma'rifat adalah taqlid. Kata ini berarti mengikuti ucapan seseorang tanpa landasan argumen. Maka, taqlid tidak dikategorikan sebagai ilmu. Ia sama sekali tidak akan meniscayakan keyakinan. Tentu saja, manusia tidak mungkin ber-ma'rifat dan mengenal Zat Allah SWT haqqu ma'rifatih (secara utuh dan sempurna), sebagaimana yang dibuktikan oleh akal. Karena, bagaimana mungkin sesuatu yang terbatas (makhluk) dapat mengetahui dan menjangkau zat yang tidak terbatas (al-Khaliq) dari berbagai sisi-Nya. Oleh sebab itu, rasul sebagai makhluk yang paling sempurna pernah bersabda dalam penggalan munajatnya, "Wahai Tu-hanku, diriku takkan pernah mengetahui-Mu sebagaimana mestinya."
Setiap ilmu dan ma'rifat, khususnya ma'rifatullah, yang dimiliki oleh setiap individu ataupun suatu komunitas sangat berpengaruh pada perilaku moral dalam kehidupan mereka sehari-hari. Kita bisa bandingkan mereka yang
meyakini pandangan dunia Ilahi dengan mereka yang menganut pandangan dunia materialis. Kelompok kedua ini menganggap bahwa kehidupan manusia tidak memiliki kepastian dan kejelasan tujuan yang harus ditempuh, anggapan yang
bermuara dari keyakinan bahwa kebermulaan alam ini dari shudfah (kebetulan), sehingga mereka melihat bahwa kematian merupakan titik akhir dari kehidupan dan manusia menjadi tiada hanya dengan kematian. Kematian itu akan menghadang setiap orang tanpa pandang bulu, zalim maupun adil, berbudi luhur maupun tercela.
            Pada tahun 2007, senin 7 Mai, bertepatan dengan 19 Rabiul Akhir 1438 H. Sebuah forum tingkat tinggi ulama Aceh menggelar pertemuan kedua di Mesjid Raya Baiturrahman; pada pertemuan yang menghadirkan ratusan ulama Aceh ini menyimpulkan bahwa ada empat ulama Aceh yang telah sampai pada tingkat ma’rifatullah[1]. Keempat ulama itu, masing-masing Syaikh Abdurrauf As-Singkili, Hamzah Fansuri, Tgk Haji Muhammad Hasan Krueng Kalee dan Tgk Syaikh H.Muhammad Waly Al-Khalidy atau yang lebih dikenal dengan sebutan Tgk H Muda Waly.
            Hadir dalam pertemuan tersebut diantaranya adalah: Tgk Jamaluddin Waly, Tgk Natsir Waly, Abu Panton(Abu Ibrahim Panton), Kadis Syari’at Islam Prof Al Yasa’ Abu Bakar dan seratusan ulama Aceh lainnya. Pada pertemuan ini, Prof Syahrizal Abbas dari IAIN Ar-Raniry Banda Aceh bertindak sebagai pemandu acara.
            Tgk Haji Muhammad Hasan Krueng Kalee adalah seorang ulama besar Ahlusunnah wal jama’ah yang menganut Thariqat Haddadiyah, yakni thariqat yang berpangkal kepada Said Abdullah Ala Hadad. Meski demikian beliau bukanlah seorang ulama yang tradisional (kolot). Beliau pernah ikut dalam musyawarah pendidikan Islam pada oktober 1932 di Lubuk, Aceh Besar. Dalam pertemuan ini membahas pembaharuan pendidikan Islam.
            Beliau merupakan alumni Dayah Yan, Keudah Malaysia yang waktu itu dipimpin oleh seorang ulama besar yang berasal dari kerajaan Aceh Darussalam. Salah seorang murid Tgk Haji Muhammad Hasan Krueng Kalee adalah; Tgk Muhammad Daud Beureueh. Bahkan menurut beberapa sumber yang tim penulis wawancarai, Tgk Syaikh H.Muhammad Waly Al-Khalidy juga sempat menimba ilmu sama beliau meskipun tidak dalam jangka waktu yang lama.
            Selain beliau, tokoh ulama Aceh lainnya yang mencapai tingkat ma’rifatullah adalah Syaikh Abdurrauf As-Singkili yang masyhur dengan panggilan Syiah Kuala. Beliau adalah seorang ulama besar yang menguasai ilmu-ilmu agama dan pimpinan pusat pendidikan Baiturrahman pada zaman Sultan Iskandar Muda dan berlanjut hingga masa Sultanah Sri Ratu Safiatuddin Tajul Alam selaku mufti kerajaan Aceh. Syiah Kuala merupakan mursyid thariqat Syattariah, beliau mendapat ijazah dari Syaikh Ahmad Khusyasyi ( 1585-1661 M ) di Madinah dan kembali ke Aceh sekita tahun 1083 H atau 1662 M.
            Sedangkan Hamzah Fansuri merupakan sufi terkemuka dari Aceh. Apabila Syaikh Abdurrauf merupakan pendekar besar dalam syaria’at di Nusantara Islam. Maka Hamzah Fansuri merupakan pendekar besar dalam bidang tasawuf Islam di Aceh. Konon menurut cerita, saudara Hamzah Fansuri bernama Ali Fansuri adalah Ayah dari Abdurrauf As-Singkili Al-Fansuri.
            Sementara ulama besar Aceh lainnya yang juga mencapai tingkat ma’rifatullah adalah Tgk H.Muhammad Waly Al-Khalidy, beliau lahir pada 1917 di Desa Blang Poroh, Labuhan Haji, Aceh Selatan. Sejarah beliau pernah ditulis oleh Prof Ali Hasyimi dan juga oleh anak beliau sendiri Prof Muhibbuddin Waly yang diterbitkan di Singapura.



[1] Berita Serambi Indonesia, Senin, 7 Mai 2007.

Kegiatan Pendidikan Dayah Krueng Kalee

        Santri yang belajar pada dayah ini dapat dikategorikan dua kelompok, yaitu santri mukim dan santri kalung. Santri mukim ialah para santri yang menetap dan tinggal di pondok dayah (asrama) yang terdapat di komplek dayah. Mereka berasal dari daerah-daerah diluar kecamatan Darussalam dan berasal dari luar Aceh.

        Adapun santri kalung adalah para santri yang berasal dari desa-desa sekitar lokasi dayah. Para santri ini hanya datang pada jam-jam belajar saja, kemudian mereka pulang ke tempat masing-masing. Waktu belajar bagi santri mukim, adalah dari jam 8.00 pagi sampai dengan jam 12 siang, sesudah itu mereka istirahat, kemudian dimulai kembali pada jam 15 sampai dengan jam18, dan pada jam 16.30 shalat ‘asar, sesudah itu mereka istirahat dan sholat maghrib, kemudian sesudah sholat ‘isya mereka belajar kembali, pada malam harinya dibuka kembali dari jam 20.00 sampai jam 24.00 WIB.
        Selanjutnya bagi santri yang tidak menetap atau yang tidak termasuk warga dayah kepada mereka disediakan waktu tertentu diantarnya untuk wanita diberikan pada hari Rabu jam 9.00 sampai dengan jam 11.00, sedangkan untuk pria pada hari senin dari jam 8.00 sampai dengan jam 12.00, pada jam-jam tersebut diatas pelajaran-pelajaran untuk santri ditiadakan.
        Anggota pengajian dan anggota tawajjuh dari tariqat yang beliau kembangkan tidak hanya berasal dari masyarakat Darussalam saja, akan tetapi juga dari kecamatan lain di Kabupaten Aceh Besar. Hal yang demikian merupakan salah satu sebanya terkenalnya dayah Luhur Krueng Kale eke seluruh penjuru daerah, baik dalam lingkungan kabupaten Aceh Besar maupun diluarnya.
        Sebagimana telah disebutkan diatas bahwa Tgk Haji Hasan Krueng Kalee adalah mempunyai pengikut yang banyak, baik di bidang tareqat Al-Hadad yang beliau kembangkan maupun dalam bidang santri santri yang datang dari berbagai daerah, beliau telah dijadikan pemimpin yang ditaati oleh setiap lapisan masyarakat, karena keberhasilannya membangun sebuah dayah Luhur Krueng Kalee. Dimana segala Sesuatu yang menyangkut dengan dayah tersebut adalah milik beliau sendiri.
        Dengan demikian jelas bahwa segala Sesuatu yang berhubungan dengan kelangsungan hidup dan perkembangan dayah tersebut beliau sendiri yang menanganinya. Oleh karena itu tepatlah kiranya dikatakan bahwa beliau muncul sebagai seorang figure pemimpin ditengah-tengah masyarakat, adalah karena kelebihan dan kesanggupan beliau dalam membina ajaran Islam, yang corak amal, social dan ibadah yang telah beliau kembangkan dalam masyarakat secara terpadu, sehingga pengikut-pengikut beliau berkesan yang baik, segi amal beliau dan ketekunannya, terutama soal-soal ibadah yang telah beliau kembangkan dalam masyarakat sangat dikagumi oleh murid-murid dan pengikut-pengikutnya.
        Seorang pemimpin yang telah mendapat petunjuk dari Allah untuk menjadi pemimpin mempunyai sifat-sifat utama dalam rangka membina dan mengembangkan ajaran Islam. Dintara sifat-sifat tersebut adalah:
1.      Amanah;
2.      Rasa tanggung jawab/ adil;
3.      Mempunyai harga diri;
4.      Berjiwa besar;
5.      Berhati tabah dan
6.      Mempunyai budi pekerti yang mulia.[1]
        Ajaran Islam menunjukkan bahwa semua manusia ini adalah pemimpin, baik dalam arti yang sempit maupun dalam arti yang luas, yang semuanya itu akan dipertnggungjawabkan kepemimpinannya kepada Allah sesuai dengan pesan Nabi SAW; “semua kamu pemimpin dan setiap pemimpin bertanggung jawab tas rakyat yang dipimpinnya, kepala Negara, pemimpin dan bertanggungjawab terhadap (rakyat) yang dipimpinnya, seorang lakilaki pemimpin dan bertanggungjawab terhadap (rumah tangga) yang dipimpinnya.”
        Berdasarkan hasil wawancara dengan tokoh-tokoh masyarakat, maka alamrhum Tgk Haji Hasan Krueng Kalee adalah termasuksalah seorang pemimpin yang memiliki syarat-syrat sebagaimana yang telah penulis sebutkan tadi.



                                [1] Prof. A. Hasjmy, P impinan dan Akhlaknya, Majlis ulama daerah istimewa Aceh , Banda Aceh, 1973, hal. 19.

Karya-Karya Tulis Tgk. H. Hasan Krueng Kalee

              Karir seorang tokoh ulama dan pendidik, pada hakikatnya tidak hanya Nampak pada usaha-usaha nyata di masa hidupnya melainkan juga terwujud dalam bentuk karya-karya tulis. Karena betapapun juga ajaran-ajaran, fatwa-fatwa dan isi pendidikan, tidak mungkin menjangkau kalangan yang lebih luas jika disampaikan dengan lisan. Ia akan lebih meluas, jika isi pendidikan itu disampaikan dalam bentuk karya-karya tulis, sehinnga dapat dibaca dan diresapi oleh semua kalangan masyarakat serta jangkauannyapun tidak terbatas. Ia akan tetap dikenang dan buah pikirannya akan tetap dibaca orang.
                  Usaha mengabadikan isi pendidikan dan pengajaran yang berwujud karya tulis ini juga telah ditempuh oleh Tgk Haji Hasan Krueng Kalee. Sejalan dengan hasil penelitian dan wawancara penulis dengan tokoh-tokoh masyarakat, umumnya mengatakan bahwa pola hidup Tgk Haji Hasan Krueng Kalee lebih menjurus kepada kehidupan sufi yang mengutamakan pangamalan ibadah. Namun demikian beliau juga pernah menulis kitab-kitab dan buku-buku pelajaran agama, saying sekali banyak karangan-karangan beliau yang tidak diberi nama dan telah hilang juga tidak dipoblisir.
                  Adapun karya-karya tulis Tgk Haji Hasan Krueng Kalee dapat dikelompokkan kepada dua yaitu karya-karya tulis yang sudah diterbitkan dan yang belum diterbitkan.
1.                  Karya-karya Tulis yang Sudah Diterbitkan.[1]
        Adapun salah satu tulisan atau karya tulis, yang telah dibukukan dan cukup popular dikalangan murid-murid dan masyarakat Aceh adalah sebuah buku kecil yang berjudul risalah lathifah fi adabi Al-zikry. Buku ini mengandung pelajaran tentang petunjuk samadiyah dan tahlil, yang diamalkan oleh wali-wali dan auliya-auliya Allah.
        Beliau berpendapat berdasarkan hadis Rasulullah SAW, siapa yang mengucapakan la ilaha illa Allah sedangkan ia membenarkannya baik dengan lidahnya maupun dengan hatinya niscaya ia akan masuk surga. Sebagaiamana bunyinya: “Barang siapa menucapakan la ilaha illa Allah sedangkan ia membenarkannya baik dengan lidahnya maupun dengan hatinya niscaya ia akan masuk delapan pintu surge, mana-mana yang mereka sukai.
        Dari hadis Rasulullah SAW diatas dapat dipahami bahwa sesorang yang membaca qul huwa Allahu ahad sepuluh ribu kali ia akan         akan dibebaskan oleh Allah dari api neraka. Begitu juga seseorang yang membaca qul huwa Allahu ahad sepuluh ribu kali bagi orang mati mereka dibebaskan oleh Allah dari api neraka. Demikian juga seseorang yang mengucapakan kalimat la ilaha illa Allah baik dengan lidahnya maupun dengan hatinya ia akan masuk surge.
        Menurut responden tujuan diterbitkan buku ini adalah untuk mengajarkan cara-cara samadiah dan tahlil pada murid-murid beliau dengan cara muqarrabah yakni mendekatkan diri kepada Allah, sehingga mencapai derajat yang tinggi.
        Atas dasar itu Tgk Haji Hasan Krueng Kalee berusaha memperbanyak atau menggandakannya agar murid-murid dan anggota masyarakat yang membutuhkannya memiliki buku pegangan serta mengamalkan isinya.dari identitas yang dapat dibaca pada buku tersebut, publikasi atau penerbitannya dilakukan oleh Pustaka Aceh raya Banda Aceh dan pertama sekali diterbitkan pada tahun 1958.
        Dibidang tarikat ini sebenarnya masih ada karya tulis lain yang belum sempat diterbitkan antara lain tata tertib melakukan tarikat. Tulisan tentang ini digunakan semata sebagai bahan untuk melaksanakan tarikat dikalangan sendiri.

2.         Karya-karya tulis yang Belum Diterbitkan[2]
        Ada beberapa karya tulis belum diterbitkan, yang berisikan pendidikan Islam yang baik diantaranya:
a.         Jawahir Al-Ulum fi kasyafil maklum yang ditulis pada tahun 1334 H. Buku ini mengupas masalah kelebihan dan kebaikan menuntut ilmu pengetahuan ditinjau dari ilmu taSAWwuf setebal 300 halaman.
b.         An ‘amatu Al-faidhah fi isti’mali qa’idati Al- rabithah, yang ditulis pada tahun 1327 H. Berjumlah 35 halaman, mengupas tentang rabithah yaitu hubungan murid dengan gurunya, yang bersambung sampai kepada Nabi SAW.
c.          Sirajus salikin ‘ala minhajil ‘abidin, ditulis pada tahun 1332 H, berjumlah 300 halaman. Buku ini menguraikan tentang isi buku minhajul ‘abidin karangan Imam Ghazali, agar orang mudah memahami dan membahas kitab tersebut.
        Dari uraian diatas dapat disimpulakan bahwa karya-karya tulis Tgk Haji Hasan Krueng Kalee cukup banyak, yang menyangkut berbagai masalah Islam termasuk juga masalah pendidikan, buku-buku tersebut merupakan sumbangan berharga bagi umat Islam khususnya di Aceh.



[1] Fauziah Ibrahim, Tgk Haji Hasan Krueng Kalee Sebagai Tokoh Pendidikan Islam di Aceh, Skripsi: IAIN Ar-Raniry, 1986
[2] Fauziah Ibrahim, Tgk Haji Hasan Krueng Kalee Sebagai Tokoh Pendidikan Islam di Aceh, Skripsi: IAIN Ar-Raniry, 1986

 
Redesign by : Sbafcom Corporatian