Senin, 02 Mei 2011

Partisipasi dalam Pemerintah

               Tgk Haji Hasan Krueng Kalee tidak hanya berkiprah dalam dunia pendidikan Islam, tetapi kiprahnya di dunia politik dan pemerintahan juga diperhitungkan. Sebelum perang dunia II, Tgk Haji Hasan Krueng Kalee telah menjadi anggota Persatuan Tarbiyah Islamiah (PERTI), bahkan salah satu pimpinannya di Aceh. Setelah Indonesia merdeka dan setelah PERTI menjadi organisasi politik beliau tetap menjadi anggota bahkan menjadi sesepuh yang penting, sehingga beliau menjadi anggota konstituante mewakili PERTI.
               Selama tahun-tahun revolusi beliau diangkat menjadi penasehat Gubernur Milter Aceh, Langkat dan Tanoh Karo.Tgk Haji Hasan Krueng Kalee juga aktif menjadi anggota barisan mujahidi Aceh, sehingga dengan kegiatan ini beliau terlibat langsung dalam berbagai masalah perjuangan di Aceh.
 Disebabkan sikapnya yang anti penjajah maka Tgk Haji Hasan Krueng Kalee diangkat oleh Komite Nasional Daerah Aceh menjadi anggota panitia yang dibentuk dalam sidangnya tanggal 15 Januari 1945. panitia tersebut bertujuan untuk menyelidiki asal usul perang saudara yang terjadi di Aceh pada akhir tahun 1945 yang kemudian dikenal dengan nama ”Peristiwa Cumbok”. Pertempuran dahsyat terjadi selama dua bulan antargolongan ulama dan rakyat di satu pihak dengan golongan Uleebalang dan pengikut-pengikutnya di pihak lain yang mengakibatkan korban jiwa dan harta yang cukup banyak.
 Pemerintah dalam hal ini Komite Nasional Daerah Aceh merasa perlu untuk menyelidiki masalah tersebut sedalam-dalamnya, seperti ditegaskan dalam pembentukan panitia itu:
...membentuk sebuah panitia terdiri dari orang-orang tua yang dianggap disegani, berpengaruh dan sanggup menyelidiki dengan seluas-luasnya asal usul pertempuran itu dan hal-hal yang berhubungan dengan pertempuran yang tersebut sejak permulaannya sampai dewasa ini dan melaporkan alasan-alasan yang dianggap sah untuk mendesak pemerintah mengambil tindakan selanjutnya....

            Panitia tersebut terdiri dari:
1.            Teungku Muhammad Daud Beureu-eh sebagai Ketua(dari golongan ulama)
2.            Teungku Muhammad Amin sebagai Sekretaris(dari golongan Uleebalang)
3.            Tgk Haji Hasan Krueng Kalee sebagai anggota(dari
 golongan ulama)
4.            Teungku Ismail Yakub Anggota (dari golongan ulama)
5.            Teungku M. Yunus Jamil Anggota (dari golongan ulama)
6.            Teungku Ali Lamlagang Anggota (dari golongan Uleebalang)
            Kiprah Tgk Haji Hasan Krueng Kalee baik dalam bidang pendidikan maupun politik sangat besar artinya bagi kemajuan Aceh. Beliau memikirkan kemajuan Aceh hingga akhir hayat, dan meninggal pada tanggal 19 Januari 1973 dengan meninggalkan tiga orang istri, yaitu Teungku Nyak Safiah di Krungkale, Teungku Nyak Aisyah di Krungkale, dan Teungku Nyak Awan di Lamseuneung. Dari tiga istri ini beliau memperoleh tiga belas orang anak 8 pria dan 5 wanita. Membicarakan masalah pemerintahan tidak dapat dipisahkan dengan ulama, karena potensi alim ulama, baik sebagai pemimpin masyarakat maupun pemimpin agama adalah patner pejabat pemerintah, dalam pembangunan bangsa dan Negara. Dimasa perjuangan Tgk Haji Hasan Krueng Kalee dapat dikatagorikan sebagai perintis kemerdekaan, karena beliau merupakan salah seorang pemimpin dari barisan Mujahidin di daerah Aceh, Langkat dan Tanah Karo. Kemudian beliau terpilih menjadi anggota konstituante Republik Indonesia dari partai islam Perti.
            Dari keterangan diatas jelas bahwa Tgk Haji Hasan Krueng Kalee pernah memegang peranan dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, dalam rangka mempertahankan Indonesia merdeka melawan Belanda dengan seruan jihad fi sabilillah. Dengan demikian ulama seperti Tgk Haji Hasan Krueng Kalee, mempunyai peranan penting dalam memperjuangkan dan mengisi kemerdekaan. Menurut Prof. Dr. Hamka menilai bahwa dengan adanya ulama dapat merintis melangkah lebih maju, dalam mengisi kemerdekaan, yang maksudnya untuk saling mendekati. Dengan ini terbukti niat bersama untuk membangun Negara, rohani dan materi. Pemerintah dan ulama saling membutuhkan.[1]
            Dengan adanya kerjasama pemerintah dengan ulama dan antar para ulama sendiri, tentu akan lebih mendatangkan daya guna dan hasil guna pembangunan masyrakat dan bangsa, dalam hal-hal yang sulit menjadi ringan dengan adanyakerjasama antara pemrintah dan ulama. Dengan demikian ulama yang berfungsi sebagai penghubung(kumunikator) antara ulama dan umara dan antar ulama dan umat. Maka dari uraian diatas tampak benar peranan alim ulama dalam hal tersebut sangat positif, khususnya dalam ikut serta menentramkan dan mengamankan Negara.
            Menurut ajaran islam, ada dua macam pemimpin yang harus bekerja sama, bersatu padu dan bahu-membahu didalam mewujudkan tercapainya kesejahteraan dan kedamaian didalam satu Negara, antara lain:
1.                  Pemimpin Negara atau pemimpin-pemimpin yang diangkat oleh Negara dan masyarakatnya.
2.                  Ulama(pemimpin-pemimpin agama) yang diangkat oleh masyarakat tanpa formil-formilan.
Dari kutipan diatas jelas bahwa, apabila dalam sebuah Negara pemimpin itu bersatu padu, seiring seperjalanan, saling bekerja sama, maka Negara itu akan damai dan damai. Masyarakatnya akan hidup dengan penuh kebahagiaan dan ketentraman, tetapi sebaliknya apabila kedua pemimpin itu tidak bekerja sama dan bahkan saling curiga mencurigai, maka Negara itu akan hilang keseimbangan, tidak ada lagi keserasian dan kehormatan dalam kehidupan masyarakatnya.
Syarat syarat pemimpin yang diperlukan dalam proses pembangunan antara lain:
1.                  Dapat melihat jauh ke depan;
2.                  Berpikir maju, bersedia menerima perubahan menuju kemajuan atau terbuka untuk kemajuan;
3.                  Berpandangan luas, intergrafi (tidak berkotak-katik), berkesimbangan (tidak hanya memandang dari segi sendiri saja) dan menghargai orang lain akan perubahan menuju kemajuan;
4.                  Utuh, mengutamakan keseimbangan di segala bidang dunia dan akhirat, lahir batin, lain-lain cara hidup yang nyata, yang patut dijadikan teldan.[2]
Sesuai dengan apa yang telah dibahas di belakang, memang sikap Tgk Haji Hasan Krueng Kalee, dalam menghadapi sesuatu masalah dalam masyarakat adalah mencegah keadaan yang tidak betul dalam masyarakat secara edukatif dan persuasive seperti amar makruf nahi munkar.
Dengan demikian sebagai ulama, beliau memimpin umat ke jalan yang lurus, membedakan mana yang hak dan mana yang batil, artinya beliau berindak sebagai penuntun terhadap hal-hal yang tidak bias dipisahkan semata-mata dengan akal dan pancaindra, sementara itu penguasa memberikan perlindungan kepada nasyrakat, dengan demikian tujuan menciptakan masyarakat adil dan makmur yang merata dan akan tercapai, apabila kerja sama antara penguasa dan alim ulama dipupuk terus menerus.
Atas dasar itu ulama mempunyai peranan yang sama besarnya dengan para pejabat pemerintah. Dalam hal ini Nabi Muhammad SAW bersabda: “dua golongan dari umat manusia, apbila mereka baik maka sejahteralah masyarakat dan apabila mereka rusak binasalah masyarakat, mereka itu adalah pejabat pemerintah dan alim ulama.[3] Dari hadis ini menunjukkan bahwa peranan kerja sama antara ulama dan umara mutlak diperlukan dalam rangka membina masyarakat dan Negara yang adil, makmur dan aman sentosa.
Sebenarnya secara langsung Tgk Haji Hasan Krueng Kalee, tidak begitu aktif dalam bidang pemerintahan, tetapi pemerintah daerah selalu memerlukan beliau, seperti diikutsertkan dalam peristiwa cumbok yang berdarah di Pidie, beliau diangkat oleh Residen Aceh Teuku Muhammad Daud Syah sebagai anggota badan penyelidik atas peristiwa tersebut. Di pihak lain kegeguhan Tgk Haji Hasan Krueng Kalee dalam mempertahankan agama dan kahormatan bangsa tampak jelas pada peristiwa pemberontakan Tgk Abdul jalil dan santri-santrinya terhadap Jepang diBayu Aceh utara. Pada waktu penguasa Jepang telah mengutus Tgk Haji Hasan Krueng Kalee guna memperingatkan Tgk Abdul Jalil supaya jangan mengadakan pemberontakan. Akan tetapi sudah bertemu antara guru dan muridnya, Tgk Haji Hasan Krueng Kalee, malah membangkitkan semangat Tgk Abdul Jalil untuk melaksanakan cita-cita.kemudian beliau diangkat oleh gubernur Langkat dan tanah langkat danTanah Karo, sebagai penasehatnya, dengan pangkat kehormatn Letnan Kolonel ti Tuler.[4]
            Berdasarkan pernyataan di atas dapat disimpulkan ,bahwa Tgk Haji Hasan Krueng Kalee aktif berpatipasi dalam pembangunan bidang pemerintahan, baik di waktu penyelidikan peristiwa cumbok maupun diwaktu penjajahan Jepang di Aceh,. Lebih-lebih lagi beliau sangat berpartisipasi, diwaktu menjelang Indonesia merdeka dalam rangka mempertahankan Negara dan bangsa.
Setelah cumbok kalah, keadaan pemerintahan masih belum menentu, demikian pula stabilitas masyarakat menjadi lemah. Oleh karena itu ada dua peristiwa penting yang perlu diingat antara seperti berikut:
1.                  Pembentukan komisi penyelidik peristiwa cumbok, yang bertugas menyelidik sebab akibat dan lain-lain komisi di bentuk oleh Komite Nasional Aceh dengan susunan nya, Ketua Tgk Muhamad Daud Beureueh. Sedangkan anggotanya yaitu Tgk Haji Hasan Krueng Kalee ,Tgk Ali Lam Lagang,Tgk Muhammad Amin, Tgk M .Yunus Jamil, Tgk Ismail Yakub.
2.                  Pembentukan bistur komisi, untuk meminpin pemerintahan dalam daerah-daerah bekashulu baling.[5]
            Tgk Haji Hasan Krueng Kalee tidak pernah duduk resmi dalam bidang pemerintahan. Akan tetapi kapan pemerintah perlu beliau pergi, dan bila dimintak nasehat dan tenaga beliau berikan. Juga almarhum pernah diutus disasat pemerintah darurat, waktu itu beliau berada di pematang siantar. Tapi diwaktu pemborontakan DI dan TII di Aceh beliau tidak menyetujuinya, karena menganggap bahwa pemborontakan tersebut memakan waktu yang lama. Juga beliau melarang utusan yaitu Tgk Umar Tiro, jangan memberontak akibatnya terlampau lama dan mengharcurkan masyarakat yang membuat orang janda dan anak yatim yang berat resikonya, walaupun demikian peristiwa terjadi juga.[6]
            Dari data diatas jelas bahwa Tgk Haji Hasan Krueng Kalee sebenarnya tidak duduk resmi dalam pemerintah. Tapi bila pemerintah meminta nasehat dan tenaganya, beliau bersedia memberikan. Juga diwaktu pemberontakan DI dan TII. Beliau tidak menyetujuinya, karena beliau beranggapan bahwa pemberontakan tersebut akan mengakibatkan banyak wanita dan anak yatim.
            Maka tugas-tugas yang dilaakukan oleh pemerintah tidak akan berjalan lancer tanpa bantuan alim ulama yang paling memahami keinginan dan aspirasi masyrakat atau rakyat. Demikian juga para alim ulama dalam dakwah dan amar makruf nahi mungkar tidak akan dapat melaksanakan dengan baik, tanpa bantuan dan dukungan aparat pemerintah. Akan tetapi makin terbinanya persatuan dan kesatuan umat islam yang dengan itu makin mudah para ulama menyatukan pikirannya, dan langkah diantara umat islam sendiri. Akan berangsur-angsur terkikis suasana curiga mencurigai antara para ulama dan pemerintah. Hingga dengan demikian akan lebih mudahlah rakyat menyatukan pendapat dan langkah untuk membuat segala sesuatu untuk kepentingan bangsa dan Negara.[7]
            Dari uraian diatas jelas bahwa tolong menolong dan saling perlu memerlukan antara pemerintah dan ulama, kerja sama yang sebaik-baiknya antara pemerintah dan ulama.     Beliau diangkat pada waktu itu tidak lain karena perjuangan-perjuangan dan nasehat-nasehat yang beliau kemukakan pada waktu itu sangat berharga atau berguna bagi masyarakat. Dari keterangan di atas dapat diambil kesimpulan, bahwa Tgk Haji Hasan Krueng Kalee diangkat karena perjuangan dan buah pikiran yang beliau kemukakan sangat tinggi nilainya dan bermanfaat bagi masyarakat. Oleh karena itu beliau dapat digolongkan dalam ulama dan umara.
            Partisipasi Tgk Haji Hasan Krueng Kalee dalam pemerintahan dapat dibagi kepeda tiga periode yaitu: dimasa pejajahan Belanda, dimasa penjajahan Jepang dan dimasa Indonesia merdeka.
a.      Di Masa penjajahan Belanda
Diantara usaha-usaha almarhum Tgk Haji Hasan Krueng Kalee pada masa penjajahan Belanda adalah:
1.      Dimasa penjajahan Belanda, Tgk Haji Hasan Krueng Kalee sebagai ketua Rat/persatuan agama di Aceh yang diketuai oleh Teuku Raja Keumala bangsa Aceh putra Tuanku Hasyim Banta Muda. Dan majlis tersebut tidak lama berdiri kemudian dibubarkan karena kebijaksanaan yang dijalankan oleh Swart Gubernur Militer Aceh, tidak dapat diterima oleh Kerajaan Belanda.
2.      Memimpin beberapa pergerakan di Aceh, untuk menghancurkan bifak Belanda yang berada di Aceh khususnya. Seperti pergerakan di Lhong, yang dipimpin oleh salah seorang murid beliau yaitu Tgk Abdurrahaman Lhong.
3.      Beliau seorang ulama yang dicurigai oleh belanda karena beliau tidak mau membantu pemerintah Belanda. Hal ini terbukti sewaktu beliau diangkat oleh pemerintah Belanda menjadi Qadhi Negara XXVI Mukim, karena gaji yang diberikan kepada qadhi diambil dari hak orang lain, menurut beliau uang yang demikian rupa adalah haram dimakan, sehingga beliau menolak jabatan tersebut.

b.      Di Masa Penjajahan Jepang
            Pada saat-saat Jepang akan menginjak kakinya di tanah Rencong Aceh, Teuku Nyak Arif mengadakan rapat di rumahnya dengan semua unsur yang ada di Aceh.
  Maksud dan tujuan beliau mengadakan rapat tersebut adalah untuk membicarakan masalah yang berhubungan dengan keadaan politik di Aceh, terutama masalah kedatangan Jepang ke Aceh. Disamping memilih seorang pemimpin yang akan menghadapi Residen Aceh, J. Bouw guna untuk membicarakan masalah kedatangan Jepang. Keputusan rapat tersebut, Tgk Haji Hasan Krueng Kalee, terpilih sebagai seorang utusan yang akan menghadapi Residen Aceh untuk menyampaikan hasil rapat pemuka-pemuka nasyarakat.
            Tujuan yang pertama sekali pemuka-pemuka masyarakat, para alim ulama pada saat itu ingin membela Aceh dari serbuan Jepang, yang menurut anggapan mereka pertahanan yang diatur oleh pemerintah tidak sesuai lagi dengan angkatan Jepang yang akan datang ke Aceh.
            Kegiatan-kegiatan yang dihadapi oleh Tgk Haji Hasan Krueng Kalee dalam masa penjajahan Jepang, beliau membela Tanah Aceh dari penjajahan Jepang pada tahun 1944 beliau ikut mempersiapkan murid-muridnya untuk mengadakan latihan kemiliteran secara rahasia, yang sekaligus membuat murid-muridnya untuk ikut berjihad melawan Jepang.
            Pada masa itu pula beliau mempersiapkan alat-alat serba mungkin, untuk menghadapi pemberontakan yang terjadi di beberapa tempat diantaranya pemberontakan Bayu di Lhokseumawe tahun 1944 di Lhokseumawe, yang dipimpin oleh salah seorang murid beliau yaitu Tgk Abdul Jalil Bayu dan penyerbuan Blang Bintang untuk melawan Jepang yang menjelang Indonesia merdeka, yang menjadi pimpinannya adalah beliau sendiri.
  Semua pergerakan yang terjadi baik pada masa penjajahan Belanda maupun penjajahan Jepang terutama pemberontakan yang dipimpin oleh murid-murid beliau adalah atas anjuran beliau sendiri.

c.                   Di Masa Indonesia Merdeka.
            Almarhum Tgk Haji Hasan Krueng Kalee, disamping sebagai pendiri dayah Krueng Kalee, juga beliau termasuk salah seorang putra Aceh yang ikut aktif dalam perjuangan, untuk menegakkan Indonesia merdeka, diantara jabatannya yang tak dapat dilupakan sampai sekarang dalam rangka mempertahankan Indonesia merdeka dari jajahan Jepang, beliau turut juga menegakkan Republik Indonesia, dan juga beliau pernah menjadi anggota konstituante Republik Indonesia dari partai Islam Perti.
            Beliau juga membentuk barisan mujahidin di Aceh, atas ulama-ulama Aceh beliau juga menunjukkan Tgk Haji Muhammad Daud Beureueh sebagai panglimanya, kemudian Tgk Haji Hasan Krueng Kalee oleh gubernur Aceh, Langkat dan Tanah Karo menunjukkan sebgai penasehat.
            Dari penjelasan di atas jelas bahwa almarhum Tgk Haji Hasan Krueng Kalee, beliau disamping sebagai ulama yang disegani oleh kawan dan lawan, juga seorang politikus, baik dalam masa pejajahan Belanda, penjajahan Jepang maupun dalam masa Indonesia merdeka, beliau ikut berjuang menegakkan Negara Republik Indonesia.



                [1] Hamka (H. Abd.MalikKarim Amrullah), Ulama dan Pembangunan, cet. II, Cemara Indah, Jakarta, 1976, hal. 15.
[2] Amir Mahmud, ulama sebagai pelopor pembangunan dan pembinaanwilayah, ulama dan pembangunan, cet. II, PT.Cemara Indah, Jakarta, 1976, hal. 162.
[3] As-Sayuthy, Al-jami’u Sagir, juz. II, Daru Al- Fikry, Mesir, t.t., hal. 46.
                [4] Hasil wawancara dengan Tgk Idris Lamnyong.
                [5] A.Hasjmy, peristiwa-peristiwa penting diaceh dalam masa revolusi phsik, Sinar Darussalam ,No.135,Mei /Juni 1983,hal.229
                [6] Hasil wawancara dengan Tgk Abdurrahman, Siem.
[7] A. Mukti Ali,Timbulnya Rasa Saling Perlu Memerlukan, ulama dan pembangunan, Cet.II, PT,Cemara Inda, Jakarta, 1976,hal.354.

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Redesign by : Sbafcom Corporatian